![]() |
Sumber : yukpegi.com
|
MALANG – Tentu kita mengetahui
tanah Papua memiliki beribu keunikan serta kekhasan. Daerah yang berada di Negara Kesatuan Republik ini tidak diragukan lagi
menyimpan beragam kebudayaan. Salah satunya yaitu
tradisi bakar batu. Tradisi Bakar Batu ini merupakan salah satu tradisi
penting di Papua dimana ritual ini berupa memasak bersama-sama warga sekampung. Bertujuan
untuk bersyukur dan bersilaturahim, Tradisi Bakar Batu umumnya dilakukan
oleh suku pedalaman atau pegunungan Papua, seperti di Lembah Baliem, Dekai,
Pegunungan Bintang, Yahukimo, Jajawijaya, Paniai, Nabire, dll. Biasanya tradisi ini juga dilakukan untuk mengumpulkan
kerabat ataupun sanak saudara, menyambut kebahagiaan kelahiran, perkawinan adat,
penobatan kepala suku dan digunakan untuk mengumpulkan prajurit untuk berperang.
Kenapa tradisi
ini disebut tradisi bakar batu? Sesuai namanya, tradisi ini memang benar-benar
membakar batu dan batu yang sudah dibakar tadi untuk
diletakkan diatas tumpukan daging atau makanan hingga matang. Tradisi
ini memiliki nama sendiri di masing-masing tempat atau suku, seperti Gapiia
(Paniai), Kit Oba Isogoa (Wamena), atau Barapen (Jayawijaya). Dalam
pelaksanaannya, tradisi ini memiliki tiga tahapan yaitu
persiapan, bakar babi, dan makan
bersama.
Tahap
persiapan adalah dimana setiap kepala suku menyerahkan hewan babi sebagai
persembahan. Lalu, secara bergiliran kepala suku akan diminta untuk memanah
babi-babi tersebut. Jika sekali panah hewan babi langsung mati pertanda pesta
yang akan diselenggarakan akan berlangsung sukses.
Selagi kaum
pria memanah hewan babi, kaum wanita menyiapkan wadah bakar batu yang dibuat
setinggi lutut dengan lubang ditengahnya. Dalam lubang tersebut akan dibubuhi
rerumputan dan daun pisang. Sebelum batu
bakar dimasukan kedalam lubang tersebut, batu akan dibakar dengan kayu hingga
panas. Batu-batu panas akan ditata di atas daun dalam lubang. Dan di atas batu
tersebutlah bahan makanan akan dimasak hingga matang.
Setelah
matang, semua anggota suku berkumpul dan membagi makanan untuk dimakan bersama
di lapangan tengah kampung, sehingga bisa mengangkat solidaritas dan
kebersamaan rakyat Papua.
Hingga saat
ini Tradisi Bakar Batu masih terus dilakukan.
Berkembangnya zaman, tradisi ini juga dilakukan
untuk menyambut tamu-tamu penting
yang berkunjung seperti bupati, gubernur, presiden dan tamu penting lainnya.[has]

Comments
Post a Comment